Friday, July 20, 2012

SE Walikota Salatiga No. 300/373/107, Peraturan yang Berpotensi Mendisharmoni Masyarakat


"Niat ibadah itu tdk tergantung orang lain dan lingkungan, krn ibadah yg tulus adl ibadah yg mengarahkan dirinya kepada sang Khalik. Tuhan tdk pernah mewajibkan org percaya atau beriman kepadaNya, mengapa manusia dg ibadahnya meminta orang lain utk menghormati ibadahnya kpd Tuhan. Ketika ibadah terkungkung pd diri sendiri, bukan kepada Tuhan dan sesama maka ibadah akan diarahkan utk mendukung ibadah diri itu dan mengabaikan liyan. Keterkungkungan itu akan berubah utk memaksakan orang lain mengikuti ibadahnya krn ketidaksamaan dianggap merongrong ibadahnya."

Pada bulan Juli ini menjelang bulan Ramadhan, Walikota Salatiga mengeluarkan Surat Edaran No. 300/373/107 tentang Tata Tertib Penyelenggaraan Usaha Hiburan Umum dalam Rangka Menghormati Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1433 H/2012 (selanjutnya disebut dengan SE Walkot). Substansi dari SE Walkot tersebut adalah pertama, mengatur waktu buka dan tutup tempat hiburan, termasuk jam operasional tempat hiburan selama bulan ramadhan dan idul fitri. Kedua, mengatur <em>display </em>makanan minuman rumah makan, restoran atau warung makan agar dalam penjualannya tidak terlihat umum dari jam 04.00 s/d 18.00 WIB. Ketiga, Pelaku usaha penginapan atau hotel dihimbau untuk selektif dalam menerima pengunjung atau tamu untuk menghindari perbuatan asusila atau mesum dan kegiatan-kegiatan lain yang bertentangan dengan norma agama dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

SE Walkot tersebut akan dianggap sebagai 'benar dan tepat' dalam konteks wilayah lain, namun apabila mengacu pengalaman Salatiga maka Surat Edaran tersebut memiliki potensi mendisharmoni masyarakat Salatiga. Karena sebelumnya di Salatiga tidak pernah terjadi gejolak atau konflik yang terjadi selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Gejolak atau konflik yang disebabkan intoleransi pemeluk agama atau ketidak-penghormatan ketika bulan Ramadhan yang mengarah pada kekerasan fisik atau segregasi sosial. Masyarakat saling menghargai dan menghormati tanpa menonjolkan perbedaan yang ada.


Tulisan lengkapnya dapat dilihat di Kompasiana

7 comments: