Friday, July 6, 2012

Sing Prasojo Wae Mas !

Judul diatas adalah tulisan di sebuah gerobak dari seorang ibu tua yang berwirausaha di emper toko yang dimiliki konglomerat di Salatiga. Tulisan yang tertangkap mata begitu menarik untuk disimak dan menggoda untuk ditelaah sebagai bagian dari refleksi. ‘Sing prasojo wae mas’ secara harafiah berarti yang bersahaja saja. Dan istilah ‘mas’ itu merujuk tidak hanya untuk laki-laki dewasa saja, namun juga ditujukan untuk perempuan dewasa. Istilah yang ‘mas’ mengandung makna inferioritas yang berasal pengaruh dari kultur feodal, yang digunakan untuk hubungan yang tidak setara atau tuan dengan majikan.

Frasa ’sing prasojo wae mas’ menjadi oase ditengah kehidupan yang hedonis dengan berbagai penampakan sosial. Penampakan sosial seperti sombong, angkuh, egois dan tak berempati sering ditemui dalam keseharian interaksi kita. Penampakan sosial yang menempatkan dirinya sebagai ‘pusat’ kehidupan memunculkan tuntutan untuk mendapatkan perlakuan khusus (previlese) ketika berinteraksi. Kesombongan dan turunannya didasarkan pada atribut materi yang menempel, tertenteng atau yang bisa ditunjukkan kepada khalayak. Atribut seperti gadget, fashion/jewelery, kendaraan bermotor, kartu kredit, atau tempat hang out/shopping menjadi bagian yang disombongkan. Dan publik sering terjebak pada inferiotas untuk memuja pihak yang beratribut sebagai refleksi diri yang juga menghendaki perlakuan serupa ketika menggunakan atribut sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Prasojo dalam bahasa Indonesia berarti bersahaja, tidak berlebih-lebihan. Dalam konteks ibu tua yang berwirausaha mungkin karena sering melihat perilaku angkuh dan merendahkan martabat dirinya yang dilakukan oleh individu-individu yang berlalu lalang di sekitar tempat dagangan yang bertuliskan ’sing prasojo wae mas’. Kesombongan sebagai bentuk pengadalan terhadap atribut materi yang dimiliki dan ditampilkan atau diperlihatkan secara berlebihan. Tindakan yang berlebihan dalam konteks kekinian populer disebut dengan lebay. Namun sering kita tidak menyadari bahwa kesombongan atau keangkuhan kita adalah kelebayan dalam bersikap dengan orang lain.

Tidak menganggap orang lain ada (eksis) adalah bentuk kesombongan, atau merendahkan orang lain karena menganggap dirinya memiliki kelebihan dibandingkan orang lain adalah bentuk keangkuhan. Sikap demikian menjadi penyakit mental manusia jaman sekarang. Kita tidak bisa menahan diri untuk tidak sombong atau angkuh. Kita ingin menampilkan kepemilikan kita sebagai sebuah bagian dari jati diri yang melekat dan sudah tentu menempatkan dirinya berada di kasta sosial tertentu. Tidak berkenan menghormati orang lain menjadi penampakan lain dari kesombongan dan keangkuhan.

‘Sing prasojo wae mas’ menjadi petuah yang mempunyai relevansi untuk diperhatikan, agar kita hidup sederhana. Ketika hidup sederhana maka keinginan untuk mencari kelebihan yang mendorong untuk mengada-adakan sesuatu yang seharusnya belum tentu ada dapat dicegah. Karena keinginan untuk mencari kelebihan tersebut akan merayu kita untuk berperilaku tidak jujur dan menghalalkan segala cara. Keinginan tersebut akan membesar disuburkan dengan tuntutan lingkungan yang menuhankan atribut kebendaan sebagai bagian dari penghormatan dan penempatan individu pada kasta sosial tertentu. Kesederhanaan bukan kehinaan, namun kekayaan batiniah untuk menggempur keangkuhan dan kesombongan.

Artikel ini juga bisa dibaca di kompasiana..

11 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Hi, my name is navratna.
    Thanks for such an amazing post.I was searching from more then 2 hours about this topic. You saved my life.
    Navratna mala

    ReplyDelete
  3. yach dengan prasojo berarti menjaga kehormatan, tidak rakus pokoknya suka diambil tidak lihat kiri dan kanan. siip

    bila butuh mejalaptop dengan pendingin yang praktis, mampir mas di http://mejalaptop-portable.com

    ReplyDelete
  4. Terima kasih telah menyajikan tulisan yang menarik bagi pembaca.
    pasang iklan gratis tanpa daftar

    ReplyDelete