Showing posts with label Salatiga. Show all posts
Showing posts with label Salatiga. Show all posts

Wednesday, July 30, 2014

Salatiga Indah - Side Effect of Bikeventuring

Semula hanya berniat bersepeda dengan rute keliling Salatiga, tanpa berniat untuk mencari spot foto. Namun ketika memasuki daerah Gunung Sari dari arah Kalibening, berubah pikiran ketika berhenti untuk beristirahat sejenak melihat pemandangan hamparan sawah yang menguning dengan sebagian yang sedang di panen oleh (buruh) petani. Takjub melihat pemandangan itu, dan melintas ingatan mengenai postingan foto oleh dua teman di Facebook yang pertama terheran-heran dengan pemandangan Salatiga dari Salib Putih, dan yang kedua pemandangan di daerah Bali.

Dengan mengacu dari postingan tersebut, berpikir bahwa apa yang saya lihat dibawah dengan hamparan sawah dan diseberang sungai ada terasiring yang tidak kalah indah dengan yang ada di Ubud, Bali. Salatiga memiliki pemandangan (view) yang harus diekplorasi agar keindahannya terekspose dan dikenal oleh khalayak. Dan inilah hasil dari bersepeda yang di istilahkan sebagai bikeventuring, tidak hanya untuk bersepeda semata mencari tempat free ride melainkan mengeksplore tempat yang dilalui.


Dua gambar ini terambil dari celah pohon sengon yang seolah menghalangi keindahan pemandangan.


Gambar-gambar selanjutnya mencoba menghindari halangan pohon-pohon sengon, dengan beranjak mengayuh sedikit menuruni jalanan untuk melihat pemandangan secara 'bebas' tidak terhalang pohon.

 
Pemandangan sawah dengan padi menguning, dengan latar belakang pohon kelapa dan terasiring sawah menjadi sebuah eksotisme yang tidak dapat dihindarkan untuk dinikmati.
 
Ketika mencoba menanyakan di Facebook, apakah percaya kalau gambar ini berada di Salatiga? Banyak yang gamang, dan meski yakin itu Salatiga namun banyak yang tidak tahu daerah mana.


Wednesday, July 23, 2014

Refleksi Dirgahayu 1264 Kota Hati Beriman

Masyarakat sekarang sudah naik kelas dalam berdemokrasi, berbeda pendapat secara terbuka, akses informasi utk kebutuhan informasi dlm menentukan pilihan yang rasional. Lontaran2 pikiran di sampaikan di medsos sungguh menjadi kekayaan dalam diskursus demokrasi yang memperkaya dan memberdaya pada setiap pengambilan keputusan. Namun disebuah kota kecil, ketika pembangunan menjadi kue yang hny diolah oleh segelintir orang, kemudian dibagi oleh kelompok kecil dari segelintir orang. Ditingkahi dengan keserakahan hukum yang berseragam meminta jatah remahan kue pembangunan. Masyarakat yg bergiat dengan proyek pembangunan hanya bisa pasrah, lebih mengutamakan perut daripada kebenaran. Semua stakeholder sudah terbeli dalam jejaring kuasa yang kolutif. Dimanakah suaraku harus kugaungkan ketika rakyat dikelabui dengan ego dan kepasrahan bhw itu bukan urusanku. Suarapun hny mjd gema sebagai penanda bhw ada yg masih eksis, tp sendiri, tersesat tanpa teman menjelajah bentara yg menjulur akar korupsi. Apakah pantas satu tusukan pada kotak suara dijadikan pijakan untuk berharap bhw pilihannya mampu merubah sebuah kota kecil, ditengah mesin partai pendukung terlibat dalam jejaring korupsi dan kolusi yang tidak terjamah oleh keterbukaan apalagi hukum?

Kue (proyek) pembangunan yang dibagi di antara eksekutif, legislatif dan civil society telah melahirkan tradisi yang tiap tahun menjadi rebutan. Apabila rebutan kekuasaan sudah terlembaga setiap lima tahun melalui pemilu, maka rebutan kue proyek pembangunan terjadi setiap tahun (anggaran). Aktornya bisa berbeda, namun hakekat rebutannya selalu hadir menjadi agenda tiap tahun. Aktor yang terlibat adalah eksekutif, legislatif, dan civil society. Tentu bertanya, mengapa civil society terlibat dalam rebutan proyek yang diketahui sudah pasti berbau korupsi dan kolusi? Eksekutif yang pemimpinnya mengalami pergantian selama lima tahun, menjadi aktor terduga utama dalam bagi-bagi kue proyek pembangunan. Legislatif dengan modus term 'aspirasi dewan', menjadi upaya mendapatkan kue proyek dengan menggunakan badan usaha yang berafiliasi kepada partai atau individu anggota dewan. Semakin banyak jumlah anggota terpilih di gedung dewan, posisi tawar untuk mendapatkan bagian kue yang lebih b esar semakin kuat, termasuk mencaplok bagian eksekutif dan sesama anggota dewan yan lain baik dari partai yang sama atau berbeda.

Civil society yang terlibat dalam pembagian kue proyek pembangunan dapat di petakan sebagai berikut, kelompok profesi jurnalistik, individu atau lembaga penggiat anti korupsi, preman lokal, kelompok pengusaha jasa konstruksi, tim sukses pilkada, termasuk lembaga pemerintahan horizontal. Masif dan berjejaring menjadikan pengelolaan pemerintahan yang good governance sulit direalisasikan di kota yang berdirgahayu 1264 ini. Mulai dari penunjukkan/pengadaan langsung atau lelang, terkondisikan bahwa yang memenangkan pelaksanaan pekerjaan proyek pembangunan adalah yang sudah ditentukan. Banyak-sedikitnya proyek yang diperoleh tergantung seberapa besar posisi tawar yang dimiliki oleh masing-masing kelompok terhadap pihak yang memiliki kapasitas untuk membagi kue pembangunan.

Masalah lain dari kota yang berdirgahayu 1264 adalah proyeksi perlunya rekayasa lalu-lintas untuk mengantisipasi keterbatasan ruas jalan dan meledaknya jumlah kendaraan bermotor. Tanpa rekayasa lalu-lintas maka kemacetan sudah menghadang di depan mata. Permasalahannya adalah rekayasa lalu-lintas membutuhkan pemikiran yang mendalam dengan melibatkan stakeholder kota, dan uji coba yang berulang untuk memperoleh hasil yang baik dalam pengaturan lalu-lintas. Kota dengan luas wilayah yang terbatas harus menyegerakan pemikiran tentang rekayasa lalu lintas yang berkorelasi dengan fokus pengembangan kantong perekonomian agar tidak terpusat di jalan Jenderal Sudirman. Twin centre atau pusat kota kembar perlu dilakukan untuk menjadi daya tarik pelaku usaha membuka gerai usahanya. Salatiga yang perekonomiannya mengandalakan sektor jasa dan perdagangan, perlu menggali berbagai potensi tersebu dengan pertama, membuka pusat kota tandingan selain jenderal Sudirman. Kedua, mendorong pengembangan pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi sebagai center of excelence dalam pendidikan. Sehingga menjadi rujukan tempat atau kota lain untuk menyekolahkan anaknya di Salatiga.

Ketiga, UMKM perlu terus didorong dengan berbagai insentif untuk melebarkan sayap pengembangan usaha tanpa nepotisme dalam pelaksanaannya. Pameran pembangunan sebagai ajang promosi produk UMKM semakin di giatkan. Termasuk mengadakan kegiatan pameran di kota Salatiga secara berkala, berdampingan dengan gelar budaya yang sudah menjadi tradisi beberapa tahun ini. Kegiatan dalam sekala besar dapat menarik minat masyarakat sekitar Salatiga untuk datang dan berbelanja dengan variasi produk yang menjadi unggulan UMKM Salatiga. Pemerintah melakukan pendampingan usaha, tidak hanya dalam bentuk modal namun pengembangan skala usaha UMKM seperti pelatihan manajemen, promosi atau marketing. Dalam konteks pusat kota kembar, sentra UMKM dapat dipikirkan. Termasuk penempatan PKL dalam suatu wadah yang dapat berkontribusi pada ketertiban, kebersihan dan keindahan kota.

Keempat, peningkatan layanan publik oleh pemkot Salatiga. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil atau Kantor Pelayanan Terpadu dan Penanaman Modal sudah menunjukkan peningkatan pelayanan dengan standar operating procedure yang berISO untuk kantor pelayanan terpadu adalah prestasi yang harus dibanggakan selain perlu ditingkat dan ditularkan ke satuan kerja yang lain. PNS yang berorientasi melayani seperti karyawan perusahaan yang melayani kepentingan konsumen perlu ditransformasikan, bukan pegawai pemerintah yang bossy. Keramahan pelayanan, kepastian waktu dan prosedur perlu terus ditingkatkan.

Inilah sekelumit refleksi atas kota yang sedang berdirgahayu 1264. Tentu masih banyak sisi yang bisa diungkap. SALATIGA HATTI BERIMAN!

Saturday, March 2, 2013

Stasiun Susu: Profil Enterpreneur Muda Salatiga

Stasiun susu bukan stasiun biasa seperti kereta api, melainkan sebuah merek dagang yang mempionir pengolahan susu sapi secara 'istimewa'. Keistimewaan ini dalam konteks kota Salatiga adalah pertama, susu sapi disajikan tidak hanya sebatas susu biasa seperti banyak disajikan oleh warung susu yang ada di Salatiga. Pengolahan penyajian susu dengan di-blender bercampur rasa yang dikehendaki menqhasilkan cita rasa yang berbeda.

Kedua, selain menu susu, disajikan leker yang lebih mirip crepes. Warga Salatiga yang familiar dengan leker depan kampus swasta terkenal akan mengalami petualangan rasa leker yang berbeda dari bentuk dan rasa. Ketiga, stasiun susu terletak bukan di zona perdagangan Salatiga. Sehingga kehadirannya didahului dengan nama yang populer. Artinya rasa yang enak melahirkan penasaran konsumen untuk bisa mengunjunginya. Lokasi berjualan yang dekat dengan bangjo Grogol cukup sulit untuk diketahui konsumen yang penasaran.

Keempat, olah susu telah menghadirkan prestasi atas inovasi yang dilakukan. Pengakuan terhadap inovasi menjadi bentuk orisinalitas kewirausahaan yang dilakukan (lihat foto). Penghargaan ini sangat jarang diperoleh wirausaha di Salatiga. Sehingga penghargaan ini menjadi bentuk keberanian dalam berwirausaha dan melakukan usaha yang berbeda dengan warung serupa yang menjual susu.

Menjelang Malam di Alun-alun Kota

Alun-alun kota Salatiga atau dikenal oleh warganya sebagai lapangan Pancasila atau Lapsil menjadi salah satu daya tarik warga untuk melakukan aktivitas. Dalam kesehariannya, Lapsil menjadi salah satu tempat olahraga pagi, sentra kuliner dan di hari-hari tertentu menjadi tempat nongkrong klub-klub sepeda motor, latihan parkour, berlatih sepakbola, tempat istirahat penggemar sepeda setelah lelah berkeliling.

Saat ini, Lapsil dibenahi dengan menyeragamkan lapak jualan dan hanya fokus pada satu sisi dengan waktu berjualan bergantian pagi-siang dan sore-malam. Akibatnya Lapsil lebih 'semilak' dengan menghilangkan kesan kumuh dan berdesak-desakan. Selain itu, sisi lainnya lebih longgar untuk aktivitas warga lain. Lapsil yang demikian tidak mengurangi hak publik untuk menggunakan fasilitas umum sebagaimana terjadi di Selasar Kartini. Selasar Kartini yang tujuan semula untuk pedestrian, saat ini mulai siang sudah digunakan untuk usaha persewaan sepatu roda.

Kembali ke Lapsil, menjadi alternatif ruang publik yang perlu pengelolaan lebih lanjut dalam hal, hieginitas dan kebersihan. Sebelum penataan menjadi satu sisi, konsumen mudah terganggu dengan intensitas pengamen yang mengais rejeki. Situasi tersebut perlu diperhatikan oleh dinas terkait karena dapat melahirkan potensi gangguan keamanan bagi warga yang sedang menikmati kuliner.

Lapsil dapat menjadi simbol keberagaman, selain secara bergantian untuk kegiatan keagamaan, di sekitar bunderannya terdapat 3 tempa ibadah yaitu 1 masjid raya Salatiga dan 2 gereja. Satu hal yang terlupa bahkan sudah hilang adalah lokasi kawedanan yang bangunannya sudah dirubuhkan. Lokasi sejarah kadang harus minggir tergerus gelombang pembangunan. Pemeliharaan gedung bersejarah harus menjadi fokus pemerintah dan masyarakat.

Berkaitan dengan kuliner, pemerintah dengan terkait perlu meningkatkan kualitas kuliner dari pedagangnya. Pelatihan memasak perlu diberikan untuk pemberdayaan mutu makanan dan wahana menginspirasi pedagang untuk kualitas kuliner. Aspek hieginis perlu ditekankan dalam pengelolaan makanan. Kuliner menjadi bisnis penting di lokasi ini, dan pemkot perlu memperhatikan dan terus mendorong ke arah yang lebih baik dari berbagai aspek.

Thursday, December 6, 2012

Jalan Lingkar Salatiga

Jalan Lingkar Salatiga (JLS) telah memakan banyak korban, bukan korban jiwa karena kecelakaan lalu lintas melainkan korban aparat penegak hukum. Terdapat tiga individu yang sudah terjerat kasus hukum korupsi dalam pembangunan JLS. Kontraktor, kepala dinas dan (mantan) walikota yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya ketika mempersiapkan dan melaksanakan pembangunan JLS. Fakta tersebut bukan untuk menghakimi mereka yang dinyatakan terlibat, melainkan menjadi bahan refleksi bagi pelaksanaan pembangunan dan tata kelola pemerintahan khususnya di kota Salatiga.

PERTAMA, kekuasaan cenderung akan menciderai kepercayaan publik ketika kekuasaan mengabdi kepada kepentingan keuntungan. Pengejaran keuntungan tidak berarti menjadi pelanggaran hukum. Melainkan ketika keuntungan yang diperoleh diluar batas kewajaran, apalagi dilakukan dengan memanipulasi. Kekuasaan yang berkoalisi dengan pelaku usaha dapat membahayakan keseimbangan politik. Dimana kekuasaan yang sudah terjebak pada transaksi politik akan mengabdikan dirinya memulihkan kehilangan keuntungan yang dikeluarkan untuk mencapai kekuasaan.

Kekuasaan yang diperoleh dengan mengandalkan keutamaan dukungan finansial akan ditagih di kemudian hari untuk mengembalikan segala biaya yang dikeluarkan. Kekuasaan yang tidak ditransformasi dari dukungan publik, melainkan mengutamakan uang untuk mengkonversi dukungan politik atau dalam rangka melanggengkan atau mempertahankan kekuasaan akan mengupayakan dengan berbagai strategi agar mendapatkan uang.

KEDUA, pelaku usaha atau pengusaha merupakan pihak yang hanya memikirkan profit untuk mempertahankan keberlangsungan perusahaan. Fokus kepada profit tidak dapat dipersalahkan asalkan tidak berupaya mengambil hak-hak masyarakat untuk menikmati pelayanan publik yang lebih bermakna. Menghalalkan segala cara untuk memperoleh profit akan mengganggu kepentingan publik ketika pengusaha menggunakan kemampuannya untuk mempengaruhi kekuasaan. Usaha untuk mempengaruhi kekuasaan tidaklah tabu. Namun ketika kekuasaan memberikan keistimewaan dan menciderai persaingan sehat maka motif keuntungan berubah menjadi malapetaka bagi masyarakat.

Malapetaka yang ditimbulkan oleh koalisi penguasa dan pengusaha adalah mengalirnya dana publik ke kantong-kantong para pihak yang berkoalisi. Dana publik terserap bukan untuk melayani kepentingan publik, melainkan memuaskan ketamakan pihak yang berkoalisi dengan mengupayakan ketidakwajaran keuntungan. Distorsi kekuasaan yang berwujud pada guliran materi menghilangkan kesempatan publik menikmati potensi pelayanan yang bisa diberikan ketika biaya yang dinikmati penguasa dan pengusaha digunakan untuk pembangunan lainnya.

KETIGA, peran masyarakat dalam mengontrol pelaksanaan pembangunan menjadi penting. Pada kasus JLS, peran masyarakat seolah seperti invisible hand yang mampu memberi pengaruh berupa tekanan ke aparat penegak hukum agar memproses dugaan korupsi di pembangunan JLS. Peran masyarakat seperti ini kurang bagus, karena membuka diri terhadap potensi korupasi berupa tawar menawar. Artinya korupsi melahirkan korupsi khususnya bagi pihak yang selama ini menyuarakan pemberantasan korupsi.

Peran serta masyarakat dalam mengawasi pembangunan perlu termanifestasi dalam sebuah kesadaran masif bahwa kekuasaan berpotensi diselewengkan oleh siapapun. Penyelewengan tersebut akan menjauhkan publik dari kesempatan menikmati pelayanan yang optimal dari pemerintah. Kesadaran masif perlu diupayakan dengan membongkar ketidakpedulian dan kelebihan kepercayaan terhadap pemegang kekuasaan. Upaya ini menjadi bagian tersulit karena rakyat dihadapkan pada pilihan antara kehidupan diri/keluarga atau melayani kepentingan publik.

JLS telah menjadi fenomena di Salatiga berkaitan dengan jumlah rupiah korupsinya dan pihak yang terlibat. Tentunya ini tidak akan menjadi pelajaran berharga apabila tidak mampu membangkitkan kesadaran pemangku kepentingan kota terhadap jalannya roda penyelenggaraan pemerintahan. Korupsi kerugiannya tidak dapat di indera oleh publik, namun dampaknya dapat diketahui setelah beberapa waktu.

Saturday, September 22, 2012

Pawai Mahasiswa: Sinergi antara UKSW & Pemkot Salatiga

Kemaren, 22 September 2012 di Salatiga hadir pawai mahasiswa baru UKSW 2012. Pawai yang terdiri dari rangkaian reog, liong atau dikenal dengan barongsay, paskibraka, tari keprajuritan, flag dance, marchingblek, kostum karnival, dan tari api. Pawai yang sudah dilakukan memasuki tahun keempat pada tahun ini, dimulai sejak tahun 2009. Tema pawai selalu berkaitan dengan kemajemukan yang mencerminkan UKSW sebagai Indonesia Mini.

Pawai tahun ini mengalami perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu bekerjasama dengan Pemkot Salatiga. Dengan koordinasi Walikota Salatiga, semula Pawai akan melibatkan SKPD yaitu DISHUBKOMBUDPAR dan DIKNAS. Namun dalam perjalanannya hanya Dishubkombudpar yang menunjukkan komitmennya untuk bekerjasama mengadakan pawai dalam rangka membangun ikon wisata kota Salatiga.

Ikon wisata yang hendak dibangun adalah pawai yang merupakan sinergi antara pemkot dan perguruan tinggi. Karena baru UKSW yang memiliki agenda orientasi mahasiswa baru-nya dilakukan dengan melakukan pawai. Ikon wisata dengan menggunakan pendekatan budaya menjadi sarana menghargai kemajemukan yang menjadi keniscayaan.  Kedepan pelibatan masyarakat dengan dukungan optimal dari walikota dan jajarannya akan mampu menyelenggarakan pawai di kota Salatiga.

Untuk tahun ini saja, Dishubkombudpar mendukung pawai dengan mengirimkan 'duta' budaya antara lain reog, liong dan tari keprajuritan. Ketiganya merupakan kelompok kesenian yang dibina oleh dinas tersebut. Selain dari dishubkompar, terdapat inisiatif warga dalam keterlibatannya di pawai tersebut yaitu tarian api dan kostum karnival dari siswa Sekolah Internasional yang ada di Salatiga. Artinya apabila dukungan Pemkot Salatiga lebih nyata terhadap pawai yang sudah digagas oleh UKSW sejak tahun 2009 akan melahirkan kolaborasi luar biasa dalam penyelenggaraan pawai di kota Salatiga.

UKSW untuk Salatiga dalam konteks pawai sudah membuktikan menjadi event yang ditunggu oleh masyarakat kota Salatiga. UKSW dengan Pemkot Salatiga khususnya DISHUBKOMBUDPAR pada tahun ini melahirkan pawai dengan rangkaian yang sangat panjang. Tentunya ke depan, peserta pawai akan lebih banyak melibatkan peran serta masyarakat dengan dukungan dari Pemkot Salatiga.Dengan menempatkan kerjasama Pemkot Salatiga dan UKSW, maka pawai sebagai ikon wisata kota Salatiga bukan merupakan impian semata.

Saturday, August 11, 2012

Mremo, Mencari 'THR' ala Warga Salatiga Non Pegawai/Karyawan

Tidak diketahui secara pasti kapan tradisi mremo ini dilakukan warga Salatiga menjelang hari raya idul fitri. Mremo adalah berdagang atau berjualan dengan membangun lapak-lapak atau tempat dasaran (jualan) barang dagangan, dan dibangun di sepanjang jalan utama Salatiga yaitu jalan Jend.Sudirman. Pelaku mremo dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu 'profesi' dan daerah asal-nya. Profesi pelaku mremo adalah mereka yang memang merupakan pedagang atau warga biasa yang mencoba mendapatkan rejeki tambahan di bulan ramadhan. Daerah asal pelaku mremo juga terdiri dari dua yaitu mereka yang berasal dari daerah dibelakang jalan jend. Sudirman seperti Pancuran, Pungkursari, Kalioso, Kalicacing, atau yang domisilinya berada dekat dari daerah. Selain dari daerah sekitar jalan jend. Sudirman, pelaku mremo berasal dari luar kota Salatiga.

Lokasi kegiatan mremo utamanya dilakukan di jalan Jend. Sudirman dari depan pertokoan sebelah pos polisi kota sampai dengan depan pasar raya atau toko emas Gajah. Posisi lokasi mremo sangat tergantung dari kebijakan pemkot Salatiga yaitu mengijinkan warga membangun lapak di tengah jalan jend. Sudirman atau di bahu jalannya. Namun beberapa tahun ini mremo di tempatkan di bahu jalan, sehingga kendaraan bermotor tetap dapat melewati jalan jend. Sudirman. Kondisi demikian yang berkontribusi pada kemacetan di jalan tersebut. Permakluman atas kemacetan tersebut menjadi bagian perayaan hari kemenangan dengan memberikan kesempatan bagi warga Salatiga untuk melakukan mremo. Tahun 2012 ini, lokasi mremo sepertinya ini terbatas di depan pertokoan sebelah pos polisi kota sampai dengan ke depan pasar raya II.

Aneka barang dagangan atau produk dijajakan di arena mremo. Karena sebenarnya mremo dapat dikategorikan sebagai ekstensifikasi pasar (raya I dan II) Salatiga, baik untuk dagangan seperti pakaian dan makanan maupun barang dagangan yang kemunculannya hanya ada disetiap lebaran seperti makanan khas lebaran. Mremo menjadi pasar khas lebaran yang difasilitasi pemkot Salatiga. Selain menampung kebutuhan atas barang menjelang lebaran, mremo menjadi wahana bagi penjualnya untuk mendapatkan tambahan penghasilan untuk menambal kebutuhan lebaran keluarga. 

Sebagai pasar, mremo lebih dari sekedar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Melainkan keinginan untuk membelanjakan uang tambahan dalam berlebaran bertemu dengan kebutuhan warga Salatiga non pegawai/karyawan mendapatkan tambahan penghasilan. Tukar menukar kebutuhan menjelang lebaran terjadi karena peningkatan kebutuhan baik yang bersifat ekstra maupun naiknya harga barang. Kenaikan harga barang di setiap lebaran menjadi tantangan yang harus di hadapi oleh rakyat Indonesia, tak terkecuali warga Salatiga. Mremo adalah solusi dari tantangan ini untuk kota Salatiga. 

Sebagai pasar, mremo ini dapat berpotensi menjadi wisata dan tempat reuni warga kota. Apabia dikelola demgan baik, mremo dapat menjadi daya tarik wisata insidental pada saat lebaran. Mengemas mremo menjadi tujuan wisata adalah tantangan bagi pelaku mremo maupun pemkot Salatiga. Kemasan mremo bertujuan tidak hanya menarik minat konsumen, namun juga memberikan kenyamanan konsumen ketika berbelanja di lokasi mremo. Kenyamanan berbelanja berkaitan dengan keamanan dan ketesediaan aneka produk di pasar mremo. Salah satu yang perlu dikembangkan adalah media informasi yang disampaikan oleh pemerintah atau pedagang mremo.

Media informasi ini sebagai pelayanan kepada konsumen dalam menuntun pencarian barang yang dibutuhkan. Sebagai tempat bertemunya pembeli dana penjual, maka kesempatan terbuka bagi bertemunya individu-individu yang jarang atau tidak pernah bertemu. Khususnya bagi mereka yang menjadi mudikers pada setiap hari raya, momentum ketemu teman sekolah yang tidak diketahui informasinya karena tidak 'eksis' di jejaring sosial akan menjadi peristiwa yang membahagiakan. Mremo dapat dimaknai sebagai sumber kesemrawutan di jalan utama Salatiga, namun memiliki multifungsi ditengah keberadaannya. Selama ini mremo hanya dilihat sebagai ritual ekonomi pada saat bulan Ramadhan. 

Dan sebagai kebiasaan tahunan, silahkan mengunjunginya dan menikmati berdesak-desakan, bermandi keringat, kepanasan ketika mencari barang-barang kebutuhan lebaran.

Monday, August 6, 2012

Salatiga Peduli, sebuah Komunitas yang Peduli Salatiga yang merambah Jangkauan Kepedulian melampaui batas wilayah Salatiga

Salatiga dikenal dengan dinginnya atau tingkat kecerdasan masyarakatnya, atau produk makanan khasnya seperti kripik paru, ronde atau enting-enting gepuk. Salatiga dikenal dengan  kota yang mencetak atlet atletik yang mumpuni ditingkat nasional maupun internasional. Masih dalam bidang olah raga, dulu Salatiga dikenal dengan kawah candradimuka pemain-pemain sepakbola Indonesia. Namun Salatiga tidak hanya dikenal dengan hal-hal yang disebutkan diatas. Prestasi Salatiga tidak hanya kuliner, olahraga atau intelektualitas, melainkan dari Salatiga muncul semangat kegotong-royongan.

Semangat kegotong-royongan ini tidak muncul atas inisiatif elit pemerintah atau pengusaha, yang bersifat insidental atau mengutamakan citra. Sekelompok warga Salatiga yang peduli dengan nasib penderitaan sesama tergoda dan kemudian mengambil jalan untuk merealisasikan kepedulian dalam karya nyata. Komunitas yang menamakan dirinya Salatiga Peduli, merupakan kumpulan warga Salatiga yang mempunyai semangat kegotong-royongan dengan memanfaatkan jaringan pertemanan  melakukan tugas sosial-kemanusiaan.

Tugas sosial-kemanusiaan yang dilakukan oleh komunitas Salatiga Peduli tidak hanya bersifat insidental, yang muncul ketika ada bencana 'besar'. Namun Salatiga Peduli mengaktualisasikan kepedulian sosial yang mulai memudar dengan 'langkah kecil'. 'Langkah kecil' tersebut sepertinya sepele karena selama ini kurang mendapatkan perhatian pemerintah maupun masyarakat sekitar. Memugar atau membangun rumah warga yang nyaris roboh atau reyot adalah aktivitas Salatiga Peduli ketika bencana tidak hadir untuk meneror dengan kehilangan harta-benda atau nyawa.

Kehebatan Salatiga Peduli adalah kemampuan memobilisasi modal sosial nir campur tangan pemerintah untuk mengaktualisasikan kepedulian. Mobilisasi modal sosial ini terjadi karena Salatiga Peduli tidak memiliki 'modal' dalam pengertian finansial. Namun mereka memiliki kepedulian dan semangat untuk meminta tolong jejaring pertemanan untuk membantu sesama manusia. Jejaring pertemanan inilah yang dikelola untuk memperoleh bantuan yang dibutuhkan sesuai dengan 'jenis' kepedulian yang sedang dilaksanakan.

Salatiga Peduli adalah komunitas peduli Salatiga yang nguri-uri kegotong-royongan yang mulai memudar, tergerus oleh egoisme atau individualisme. Banyak karya Salatiga Peduli yang tidak terekspose ke publik, namun mereka sedang membangun monumen kemanusiaan dengan bantuan-bantuan sosial yang disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Dukungan publik yang peduli atas kerja sosial Salatiga Peduli yang membesarkan hati mereka untuk terus berkarya. 

Salatiga Peduli sedang menyemai benih kepedulian antar sesama. Mereka sedang mengkampanyekan nilai-nilai sosial yang mulai memudar berhadapan dengan yang disebut modernitas. Kampanye tanpa embel-embel politik atau pencitraan untuk mendapatkan simpati publik. Citra yang dibentuk agar termuat pesan memiliki sifat baik tidak berlaku di Salatiga Peduli. Karena mereka bekerja tanpa gembar-gembor, namun karya mereka sudah hadir, tidak hanya di Salatiga tapi di beberapa daerah di Jawa Tengah.

Aneka Wisata Kuliner LOTEK di Salatiga

Setelah postingan sebelumnya kita menyampaikan informasi mengenai nasi goreng (nasgor) yang berada di kota Salatiga yang menjadi 'idola' warga Salatiga. Maka pada postingan saat ini akan menyajikan warung lotek yang ada di kota Salatiga. Warung lotek disini tidak dimaksudkan informasi semua warung lotek sampai dengan di dalam kampung, melainkan warung lotek yang 'melegenda'. Artinya melegenda adalah warung lotek yang relatif di kenal luas oleh warga Salatiga baik yang masih tinggal di kota Salatiga maupun yang menjadi klagenan warga kota Salatiga yang berada di luar kota Salatiga.

Pertama, lotek Monginsidi. Sesuai sebutannya warung lotek ini berada di jalan Monginsidi. Lotek ini begitu melegenda dan masih eksis berkompetisi dengan warung-warung makan modern yang tumbuh disekitarnya. Lotek dengan sayuran, bakwan dan kerupuk begitu menggoda bagi mereka pencinta sayuran. Kedua, lotek Banjaran I (bu Misih). Lotek ini berlokasi di Banjaran, jalan Hasanudin depan SD Mangunsari. Jam buka lotek ini mulai pukul 11.00, dan itupun kalau pembaca datang pada jam itu kemungkinan sudah antre ada berada diurutan kesekian. Untuk itu lotek ini menyediakan order atau pesanan via sms. 


Ketiga, lotek Banjaran II. Lotek ini berlokasi dibelakang lotek Banjaran I dengan memasuki gang terlebih dahulu. Lokasi yang nylempit tidak menghalangi ketenaran lotek ini. Bahkan ada pencinta lotek yang fanatik dan membandingkan lotek ini dengan tetangganya berani mengatakan lebih enak. Keempat, lotek depan kampus. Lotek ini berlokasi di depan kampus, tepat berada di depan toko percetakan. Meski usia lotek ini lebih muda dari dua lotek sebelumnya. Namun keberadaannya patut diperhitungkan, karena melayani kebutuhan makanan mahasiswa UKSW. Sehingga bagi mantan mahasiswa UKSW yang pernah mengunjungi lotek tersebut semasa kuliahnya. 

Kelima, lotek mak Pon. Lotek ini tidak kalah nylempitnya dengan lotek Banjaran II. Terletak di jalan Progo di belakang supermarket Niki Baru. Letak yang demikian cukup dikenal di seantero kampung Kalioso. Lotek mak Pon tidak menggunakan kerupuk, namun tetap melengkapinya dengan pilihan aneka gorengan. Keenam, lotek Ladamba. Bagi pembaca yang bersekolah di SMP 1, SMP 2 atau SMA 3 mungkin akan mengenal lotek Ladamba. Lotek ini berlokasi di jalan Pungkursari atau jalan tembus dari jalan Pemotongan ke jalan Langensuko. 

Tidak lengkap kiranya membicarakan lotek di Salatiga tanpa tokoh lotek Salatiga yang sudah mendahului kita. Beliau adalah mak Nin atau dikenal dengan lotek mak Nin. Saat ini tidak ada yang melanjutkan warung lotek mak Nin sepeninggal beliau. Pembaca yang pernah menjadi fans mak Nin tidak akan melupakan gaya beliau ketika ngulek untuk mempersiapkan pesanan lotek pelanggannya. Ciri lain dari mak Nin ini adalah selalu mengajak pelanggan yang datang dengan pembicaraan hangat seputar kehidupan atau kenalan-kenalan pelanggannya. Galibnya, mak Nin ini bisa 'nyambung' dengan lawan bicaranya dan mengetahui topik pembicaraan. Satu hal lagi dari ciri khas beliau adalah susurnya. Saat menjual loteknya atau mempersiapkan pesanannya dilakukan dengan nyusur. Bahkan pelanggannya pernah berseloroh bahwa lotek mak Nin ini enak dan ngangeni karena bercampur dengan 'materi' yang berasal dari susurannya. 

Demikianlah informasi mengenai warung lotek yang cukup melegenda di Salatiga. Tentunya masih banyak warung lotek di Salatiga. Besar harapan penulis, tulisan ini bisa membangkitkan kembali memori tentang lotek yang pernah kita makan pada waktu lampau.

Aneka Wisata Kuliner NASGOR di Salatiga (Petunjuk Singkat Bagi Mudikers)

Kebutuhan atas informasi kuliner dirasa perlu untuk disampaikan ke publik, khususnya bagi mereka yang membutuhkan update informasi tempat kuliner atau warung makan. Apalagi bagi mereka yang sudah lama meninggalkan Salatiga dalam kurun waktu yang lama. Untuk itu pada tulisan ini akan menyampaikan informasi kuliner nasi goreng (nasgor) di Salatiga. Informasi hanya paparan singkat mengenai tempat kuliner yang diketahui oleh penulis. 


Salatiga menjadi kota nasi goreng yang melahirkan nasi goreng (nasgor) mania. Nasgor mania ini memiliki fanatisme atas rasa nasgor yang dijual di Salatiga. Pertama, nasgor pak Minto. Nasgor ini terletak di depan seberang jalan Pom Bensin Militer Nanggulan atau didepan gerai Alfamart. Nasgor ini hanya menyediakan nasgor ayam saja dan mie jawa. Agak berbeda dengan nasgor Jakarta yang 'kering', nasgor pak Minto agak 'basah'.


Kedua, nasgor Pak Joko. Nasgor ini sebenarnya mirip dengan nasgor pak Minto yaitu nasgor ayam saja. Lokasi nasgor ini di jalan Patimura depannya pintu gerbang  SMP 4 Salatiga. Nasgor pak Joko saat ini ada tambahan istimewa dari nasgor pak Joko yaitu taburan kulit ayam kering di atas nasgornya. Apabila dahulu nasgor pak Joko hanya menyajikan nasgor ayam, saat ini ada nasgor babat-iso bagi penggemar jeroan. 


Ketiga, nasgor Randuares. Nasgor ini terkenal murah dan berporsi banyak. Itulah keistimewaan dari nasgor ini, selain bercita rasa 'rumahan'. Lokasi nasgor ini ada di kampung Randuares, belakang RS Ario Wirawan yang berada di jalan salatiga-kopeng. Keempat, nasgor Gamol. Nasgor ini menjadi tempat tujuan pelajar yang berkantong cekak namun ingin menikmati nasgor. Seperti nasgor Randuares, nasgor Gamol murah dan berporsi banyak sehingga akan memuaskan kapasitas perut usia anak remaja dan pemuda. Lokasi nasgor Gamol berada di daerah Gamol yaitu dari arah perempatan grogol ke arah jalan lingkar Salatiga (JLS).


Keempat, nasgor Bulan Bintang. Dahulu lokasi nasgor ini terletak dibawah pohon beringin di pojok jalan yang mengarah ke jalan Brigjend. Sudiarto. Namun saat ini lokasinya berada didalam lapangan Pancasila dekat patung pahlawan. Keistimewaan nasgor ini adalah babat-iso-pete. Bagi pencinta jeroan, bisa memilih nasgor ditempat ini untuk mereka yang tidak menyukai nasgor ayam. Kelima, nasgor mbak Yati. Nasgor ini termasuk nasgor 'gado-gado' karena ada nasgor ayam dan babat-iso-pete. Lokasi nasgor ini ada di jalan Brigjend Sudiarto, setelah GKJ Sidomukti. 


Keenam, nasgor ngisor asem. Nasgor ini cukup populer di kalangan mahasiswa dan masyarat Salatiga. Nasgor ini termasuk nasgor 'gado-gado', namun andalannya adalah nasgor babat-iso-pete. Lokasi nasgor ini berada di jalan Ahmad Yani, depan Gereja Pantekosta di Indonesia. Ketujuh, nasgor Surabaya (motor). Nasgor ini disebut karena tempat jualannya berada di depan bengkel Surabaya Motor. Nasi goreng ini hanya menyediakan nasgor ayam seperti di nasgor pak Minto dan pak Joko. Lokasinya di perempatan jalan Sukowati, depan bengkel Surabaya Motor.


Kedelapan, nasgor depan klenteng. Nasgor ini agak berbeda dengan nasgor yang disebutkan diatas. Berbeda dalam cita rasanya, artinya apabila menginginkan nasgor yang bukan bercitarasa 'jawa' disinilah tempatnya. Lokasi nasgor ini di jalan Sukowati, tepatnya depan Klenteng. 


Kedelapan nasgor tersebut hanya nasgor mainstream yang populer di Salatiga. Masih ada nasgor Progo, nasgor pak Pur, nasgor Argamas dan masih banyak lagi. Selain nasgor yang ditawarkan warung makan seperti MJ Food, Mie Bangka, Mie Jakarta, Mie Plasa (Citra). Semoga informasi ini bermanfaat bagi warga Salatiga dan Mudikers.

Sunday, August 5, 2012

Salatiga Macet! Dilema Manfaat & Mudharat

Menjelang lebaran arus lalu lintas di jalanan Salatiga akan semakin padat. Konsentrasi kendaraan di pusat kota yaitu jalan Jend. Sudirman menghasilkan penumpukan kendaraan dijalan tersebut. Saat ini kemacetan dapat dilihat pada saat menjelang berbuka puasa, jalan Jend. Sudirman sudah 'pemanasan' untuk macet ketika hari raya idul fitri. 

Kemacetan di pusat kota adalah pemandangan langka di Salatiga. Bagi warga kota Salatiga, kemacetan menjadi masalah besar karena selama ini hampir tidak ada kemacetan di Salatiga. Namun mungkin bagi warga Ibukota yang sedang berlibur di kota kelahirannya atau hanya melintas di jalanan Salatiga, kemacetan adalah keseharian mereka. Kemacetan di kota Salatiga karena jarang terjadi dapat menjadi 'wisata macet' bagi warganya, sambil berephoria atas libur hari raya.

Wisata macet hadir menjelang dan pasca lebaran. Bagi warga Salatiga yang akan menikmati kemacetan, sambil berkemungkinan bertemu dengan teman atau kawan lama. Jalan Jend. Sudirman Salatiga menjadi pusat kota karena 'daya tarik' yang ada yaitu keberadaan 2 pasar tradisional (Pasar Raya 1 & II) dan pusat pertokoan yang menjual aneka produk. Ketika warga Salatiga bermaksud memenuhi kebutuhan mereka untuk berlebaran, maka pusat kota menjadi tujuan utamanya.

Pusat kota (jalan Jend. Sudirman) menjadi tujuan untuk memenuhi kebutuhan, maka pertemuan  warga di tempat itu akan terjadi. Silaturahmi akan hadir ketika teman, kawan, sahabat, saudara bertemu secara fisik. Meski ada aneka jejaring sosial yang bisa 'mempertemukan' mereka, namun silaturahmi dengan bertemu fisik memberikan kepuasan dan kesempurnaan sebuah interaksi. Semoga pada lebaran ini warga kota Salatiga bisa bertemu dengan kawan-kawan lama di Salatiga.

Reuni adalah salah satu bentuk bertemu secara fisik untuk teman-teman sekolah yang sudah lama tidak bertemu. Mereka yang berkelana ke luar Salatiga untuk bekerja, reuni menjadi ajang untuk kangen-kangenan dengan teman-teman mereka. Bayangkan apabila pada setiap hari raya idul fitri, alumni-alumni sekolah yang ada di Salatiga mengadakan reuni. Mereka akan datang ke Salatiga untuk hadir dalam reuni yang diselenggarakan. Kehadiran mereka akan berkontribusi pada kemacetan di Salatiga. 

Kemacetan menjadi pemandangan istimewa bagi kota Salatiga. Kepadatan lalu lintas dengan tingkat kendaraan bermotor nyaris tidak bergerak menjadi dinamika yang 'menyenangkan'. Menyenangkan karena ditengah kemacetan, terdapat banyak warga yang memperoleh penghasilan. Tukang parkir, penjaja makanan kecil, penjual mercon dan lain-lain adalah mereka yang memperoleh tambahan rejeki untuk meningkatkan penghasilan guna mempersiapkan lebaran mereka.

Selamat mempersiapkan lebaran dan bermacet ria di Salatiga yang sudah panas ketika siang dan dingin ketika malam. 

Wednesday, July 11, 2012

UKSW: Menyongsong Pawai Budaya ke 4 dalam Pengenalan Mahasiswa Baru-nya bulan September 2012

Kostum Karnival
Kostum Karnival
Barisan Kentongan Drumblek



I. LATAR BELAKANG PAWAI BUDAYA OMB UKSW

Pawai Budaya OMB UKSW sudah berlangsung sejak tahun 2009 dengan tujuan antara lain pertama, untuk mengenalkan mahasiswa baru UKSW terhadap lingkungan kota Salatiga sebagai tempat menempuh studi selama 4 tahun. Kedua, memberi hiburan (menghibur) warga kota Salatiga sebagai salah satu bentuk kontribusi mahasiswa (baru) UKSW terhadap kota Salatiga. Pawai Budaya menjadi bagian kegiatan mahasiswa baru untuk mengenal kota Salatiga, dan sarana memperkenalkan diri (kulonuwun) kepada warga Salatiga bagi mahasiswa yang akan menempuh studi di kota ini.

Pada setiap OMB UKSW baik di tahun 2009, 2010 dan 2011 mengangkat tema utama kebhinekaan atau pluralisme. Tema tersebut berdasarkan dua hal yaitu pertama, bahwa UKSW sejak dulu di kenal dengan istilah Indonesia Mini. UKSW menjadi tempat keberadaan dan bertemunya berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kebhinekaan menjadi keniscayaan dan bagian dari UKSW dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kedua, pluralisme menjadi isu krusial bagi bangsa Indonesia dan mengalami tantangan ditengah menguatnya otonomi daerah dan semangat kedaerahan.

UKSW dan Salatiga yang menjadi bagian yang bertimbal balik memiliki kepedulian bersama dalam menjaga dan mentransformasikan nilai kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa. Dari UKSW dan Salatiga diharapkan dengan pawai budaya yang mengkampanyekan nilai kebhinakaan (pluralisme), diharapkan terbangun kesadaran dari warga bangsa lain di wilayah Indonesia untuk menghargai dan mengelola kebhinekaan bangsa Indonesia.

Dari tema utama tersebut dielaborasikan menjadi kegiatan seperti kostum carnival (2009-2011) dan drumblek (2011). Tema kebhinekaan diejawantahkan dalam kegiatan tersebut, seperti kostum karnaval dibuat mengacu pada tema tersebut. Dan untuk drumblek adalah bentuk harmonisasi dari alat-alat sederhana (blek dan kentongan) yang menghasilkan suara yang dapat dinikmati oleh pendengar. Instrument music yang berbeda tersebut adalah manifestasi kebhinekaan yang mampu menghasilkan harmoni suara yang indah dan merdu.

Peserta pawai budaya OMB UKSW adalah mahasiswa baru dengan jumlah peserta berkisar antara 1000-2000 mahasiswa. Peserta melakukan pawai dari kampus UKSW (jalan Diponegoro) melalui jalan Jenderal Sudirman dan Sukowati, kemudian berakhir di Lapangan Pancasila. Di lapangan Pancasila inilah interaksi antara mahasiswa baru UKSW dan masyarakat Salatiga begitu dekat dan nyata. Sekaligus mendorong bergulirnya ekonomi PKL di sekitar lapangan Pancasila.

II. KONSEP PAWAI BUDAYA 2012

Pawai budaya OMB UKSW 2012 tidak akan jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, dengan tema tahun ini adalah 'KEBERSAMAN YANG KREATIF'. Yang menjadi istimewa dari pawai budaya tahun 2012 adalah kerjasama yang dibangun antara UKSW dan Pemkot Salatiga dalam menggelar pawai budaya tersebut. Pawai akan dimulai dengan festival drumband antar SD-SMP se kota Salatiga, dan performance drumblek dan costume carnival akan diselenggarakan pada sore sampai malam hari. Performance drumblek dan costume carnival akan dihiasi dengan aneka cahaya untuk menerangi kegelapan malam.

Pawai Budaya UKSW bersama dengan Pemkot Salatiga dengan tujuan adalah pertama, pawai budaya UKSW menjadi agenda pariwisata Salatiga dan mendorong Salatiga menjadi tujuan wisata. Kedua, mendorong keterlibatan masyarakat salatiga sehingga terjadi sinergi antara UKSW dan masyarakat Salatiga dalam memajukan kharakteristik kekayaan budaya Salatiga. Berdasarkan tujuan diatas maka Pawai Budaya UKSW 2012 meniscayakan keterlibatan atau partisipasi Pemkot Salatiga. Keniscayaan ini melahirkan konsekuensi perluasan keterlibatan peserta pawai yang tidak hanya mahasiswa UKSW melainkan masyarakat Salatiga. Keterlibatan masyarakat Salatiga ini dibagi menjadi dua kategori yaitu kampung (kelurahan, RT/RW) dan sekolah (dasar sampai dengan atas). Pertama, keterlibatan kampung dalam hal drumblek. Bahwa terdapat 4 kampung yang memiliki kelompok drumblek yaitu Pancuran, Krajan, Nanggulan dan Banjaran.

Kedua, keterlibatan sekolah dalam hal kostum carnival dengan mengundang SD-SMP-SMA di Salatiga untuk ikut dalam pawai budaya tersebut. Dalam hal ini keikutsertaan SD-SMP-SMA harus melalui seleksi, karena kostum karnaval memiliki kriteria atau spesifikasi yang berbeda agar layak disebut sebagai kostum karnaval. Selain itu untuk mengantisipasi membanjirnya peserta dari sekolah yang ingin terlibat dalam pawai tersebut.

KOMPETISI DRUMBAND SE KOTA SALATIGA

Pada pawai budaya UKSW tahun 2012 akan ditambahkan kegiatan yaitu kompetisi drumband se kota Salatiga yang akan diikuti oleh SD, SMP dan SMA/SMK yang ada di kota Salatiga. Kompetisi drumband tersebut akan diselenggarakan sebagai awal kegiatan pawai budaya yang akan memperebutkan piala Walikota Salatiga dan Rektor UKSW.

DRUMBLEK

Sebagaimana sudah diungkapkan diatas bahwa drumblek akan diikuti peserta dari mahasiwa UKSW dan kelompok drumblek di Salatiga. Estimasi peserta drumblek adalah 1000 (UKSW), 250 (Pancuran), 100 (Banjaran), 100 (Krajan), dan 150 (Nanggulan), sehingga total peserta drumblek adalah 1600 orang. Dengan jumlah sebanyak itu, diharapkan UKSW dan Pemkot Salatiga dapat memecahkan rekor MURI untuk peserta drumblek terbanyak di Indonesia.

Penampilan drumblek diserahkan ke masing-masing peserta baik kostum, koreografi maupun aransemen, termasuk pilihan lagu yang akan ditampilkan. Namun terdapat kewajiban bagi peserta drumblek adalah menyanyikan lagu Mars Salatiga yaitu HATTI BERIMAN. Mars Salatiga menjadi lagu wajib dengan aransemen music bebas, diserahkan ke setiap peserta.

KOSTUM KARNIVAL

Kostum karnival akan melibatkan mahasiswa UKSW dan SD-SMP-SMA se-Salatiga. Keterlibatan SD-SMP-SMA melalui Dinas Pendidikan dan Olahraga Pemkot Salatiga untuk berkoordinasi dengan kepala-kepala sekolah. Diharapkan sekolah dapat meloloskan minimal satu kostum carnival untuk tampil dalam Pawai Budaya. Sebagaimana dikemukakan diatas, untuk kostum akan terdapat seleksi lebih dahulu. Seleksi dimaksud adalah seleksi konsep kostum yang disesuaikan dengan persyaratan kostum carnival.

Harapannya dengan Pawai Budaya UKSW 2012 dalam rangka Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) ini semakin mengokohkan UKSW sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan orientasi mahasiswa barunya dengan pawai drumblek dan costume carnival. Dan UKSW berkontribusi terhadap pembangunan pariwisata kota Salatiga dan pawai ini menjadi agenda rutin tahunan kota Salatiga. Rekor MURI yang hendak di pecahkan semakin menancapkan pengaruh UKSW dalam mengangkat kreatifitas rakyat dalam berkesenian.