Showing posts with label lapangan pancasila. Show all posts
Showing posts with label lapangan pancasila. Show all posts

Saturday, March 2, 2013

Menjelang Malam di Alun-alun Kota

Alun-alun kota Salatiga atau dikenal oleh warganya sebagai lapangan Pancasila atau Lapsil menjadi salah satu daya tarik warga untuk melakukan aktivitas. Dalam kesehariannya, Lapsil menjadi salah satu tempat olahraga pagi, sentra kuliner dan di hari-hari tertentu menjadi tempat nongkrong klub-klub sepeda motor, latihan parkour, berlatih sepakbola, tempat istirahat penggemar sepeda setelah lelah berkeliling.

Saat ini, Lapsil dibenahi dengan menyeragamkan lapak jualan dan hanya fokus pada satu sisi dengan waktu berjualan bergantian pagi-siang dan sore-malam. Akibatnya Lapsil lebih 'semilak' dengan menghilangkan kesan kumuh dan berdesak-desakan. Selain itu, sisi lainnya lebih longgar untuk aktivitas warga lain. Lapsil yang demikian tidak mengurangi hak publik untuk menggunakan fasilitas umum sebagaimana terjadi di Selasar Kartini. Selasar Kartini yang tujuan semula untuk pedestrian, saat ini mulai siang sudah digunakan untuk usaha persewaan sepatu roda.

Kembali ke Lapsil, menjadi alternatif ruang publik yang perlu pengelolaan lebih lanjut dalam hal, hieginitas dan kebersihan. Sebelum penataan menjadi satu sisi, konsumen mudah terganggu dengan intensitas pengamen yang mengais rejeki. Situasi tersebut perlu diperhatikan oleh dinas terkait karena dapat melahirkan potensi gangguan keamanan bagi warga yang sedang menikmati kuliner.

Lapsil dapat menjadi simbol keberagaman, selain secara bergantian untuk kegiatan keagamaan, di sekitar bunderannya terdapat 3 tempa ibadah yaitu 1 masjid raya Salatiga dan 2 gereja. Satu hal yang terlupa bahkan sudah hilang adalah lokasi kawedanan yang bangunannya sudah dirubuhkan. Lokasi sejarah kadang harus minggir tergerus gelombang pembangunan. Pemeliharaan gedung bersejarah harus menjadi fokus pemerintah dan masyarakat.

Berkaitan dengan kuliner, pemerintah dengan terkait perlu meningkatkan kualitas kuliner dari pedagangnya. Pelatihan memasak perlu diberikan untuk pemberdayaan mutu makanan dan wahana menginspirasi pedagang untuk kualitas kuliner. Aspek hieginis perlu ditekankan dalam pengelolaan makanan. Kuliner menjadi bisnis penting di lokasi ini, dan pemkot perlu memperhatikan dan terus mendorong ke arah yang lebih baik dari berbagai aspek.