![]() |
| Sumber: jakarta.tribunnews.com |
‘Kemenangan’ Jokowi-Ahok menjadi manifestasi ketidakpuasan atas kepemimpinan Fauzi Bowo. Ketidakpuasan yang dipicu oleh aneka masalah (klasik) yang dihadapi oleh warga Jakarta. Menempatkan incumbent diurutan kedua menjadi bentuk sanksi politik yang selama ini tidak bekerja keras untuk menyelesaikan masalah-masalah (klasik) ibukota. Kemunculan Jokowi-Ahok yang merupakan kepala daerah dari daerah pada awalnya diragukan, sebagai walikota dari daerah ‘katrok’ yang akan kesulitan untuk bisa menyelesaikan masalah ibukota yang kompleks. Keraguan itu menjadi label yang diberikan warga Jakarta bagi setiap warga daerah yang pertama kali datang ke Ibukota. Hasil Pilkada quick count ini ternyata menunjukkan sebagian warga Jakarta menerima pemimpin tidak didasarkan pada asal kedaerahan tetapi kepercayaan track record yang terbangun sepanjang kepemimpinan di daerah.
Tulisan selengkapnya dapat dilihat disini
