Hasil pengamatan sekilas terhadap 3 (tiga) media online
dalam dua hari ini menunjukkan bahwa mereka tergagap dengan berita ekonomi yang
berkaitan dengan pertama, menurunnya
nilai tukar nilai rupiah terhadap dollar yang sudah menembus jauh batas
psikologis. Nilai tukar rupiah terhadap dollar sudah mencapai Rp. 11.900/US$. Kedua, nilai harga saham yang juga
terjun ke titik terendah. Ketiga, ironi
impor beberapa kebutuhan masyarakat. Solusi impor yang diusulkan pemerintah
ketika harga kebutuhan tersebut merangkak naik atau pemerintah gagal menahan
laju tingginya harga barang tersebut. Daging sapi dan kedelai menjadi contoh
muktahir untuk menunjukkan bahwa pemerintah kurang kreatif dalam menuntaskan
permasalahan tingginya harga kedua barang tersebut.
Ketergagapan media untuk bisa mengawal 4 paket kebijakan
yang dikeluarkan pemerintah untuk menstabilisasi ekonomi khususnya melemahnya
nilai tukar rupiah, ketika harus mengelaborasinya dalam bahasa yang dipahami public.
4 paket kebijakan tersebut adalah pertama,
focus untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan dengan cara mendorong ekpor. Kebijakan
ini ditempuh dengan cara memberikan tambahan pengurangan pajak untuk sektor
padat karya yang memiliki ekspor minimal 30% dari total produksi. Kemudian, menurunkan
impor migas dengan meningkatkan porsi penggunaan biodiesel dalam versi solar,
sehingga mengurangi konsumsi solar yang berasal dari impor. Selanjutnya¸ menetapkan pengenaan pajak penjualan
barang mewah (PPnBM) yang berasal dari barang impor seperti mobil, barang
bermerek menjadi 125-150%.
Kedua, menjaga
pertumbuhan ekonomi. Ketiga, menjaga
daya beli masyarakat dan tingkat inflasi. Keempat,
mempercepat investasi (m.news.viva.co.id/news/read/438632-empat-jurus-pemerintah-untuk-stabilisasi-ekonomi).
Ketergagapan media terjadi ketika harus menerjemahkan 4 paket kebijakan kepada
masyarakat luas. Dimana 4 paket tersebut masih bersifat ‘abstrak’ meski sudah
memuat kejelasan. Keabstrakan tersebut berkaitan dengan langkah konkrit yang
akan ditempuh pemerintah untuk menguatkan nilai tukar rupiah. Masyarakat membutuhkan
jaminan politik dari pemerintah bahwa 4 paket kebijakan tersebut akan berjalan
sesuai rencana.
Dalam hal ini media memiliki peran penting untuk menajamkan
keempat paket kebijakan tersebut agar rasional-solutif dengan melibatkan pelaku
usaha, ekonom atau akademisi. Penajaman tersebut sebagai sarana membahasakan
kembali dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh public yang mengalami
kegalauan berkaitan dengan melemahnya nilai tukar dan naiknya harga kebutuhan
pokok sepert daging sapi dan kedelai. Multiplier effect dari pelemahan nilai
tukar harus diwaspadai, ditambah dengan solusi yang melahirkan ketergantungan
atas impor juga membahayakan ketahanan ekonomi perdagangan nasional.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar menjadi salah
satu indicator rapuhnya fundamental perekonomian Indonesia. Kerapuhan ini tidak
seperti yang digembar-gemborkan pemerintah selama ini. Keempat paket kebijakan
tersebut menjadi jawaban sekaligus ‘kelemahan’ yang hendak ditambal. Kelemahan tersebut
menjadi indikasi kerapuhan fundamental ekonomi akibat rendahnya ekspor
Indonesia atau derasnya arus masuk barang impor. Tidak hanya berkaitan dengan impor
BBM, melainkan bahwa solusi yang sering dikemukakan pemerintah ketika harga
barang merangka naik dan mengalami kesulitan untuk dikendalikan adalah impor.
Kebijakan impor telah menjadi entry point dari korupsi di republic
ini. Sebagaimana di tunjukkan dari
kebijakan impor daging sapi, terungkap oleh KPK terdapat korupsi di dalamnya. Dan
korupsi impor daging sapi dapat menjadi puncak gunung es korupsi kebijakan
impor di negeri ini. kebijakan impor atas barang tertentu harus dicurigai
terdapat rantai korupsi yang melibatkan tidak hanya eksekutif, melainkan juga legislative
dan pelaku usaha. Dalam hal demikian maka, kebijakan impor menjadi modus baru
korupsi di negeri ini baik yang dilakukan dengan cara suap maupun gratifikasi
ataupun mark-up harga untuk meningkatkan margin profit para pelaku yang
terlibat dalam impor.
Peran penting media sebagai ‘penerjemah’ kebijakan
pemerintah akan membantu mencerdaskan masyarakat agar melek politik ekonomi dan
perdagangan. Bahwa selama ini dengan derasnya arus informasi yang berkaitan
dengan dunia politik dan hukum telah berhasil mencerdaskan rakyat dengan
indikasi fasihnya masyarakat membahas masalah politik dan hukum. Bahkan mampu
membangun analisis berdasarkan pemberitaan media dalam sebuah obrolan warung
kopi atau diskusi di poskamling. Analisis masyarakat terkadang tidak kalah
tajam dengan nara sumber terkenal yang sering tampil di televisi. Pendapat dinyatakan
secara lugas sebagai wacana dalam dialog antar warga.
Di bidang ekonomi-perdagangan, penjelasan dari media baik
ulasan dari dewan redaksi maupun pendapat yang berasal dari nara sumber perlu
dilakukan. Ungkapan ‘luweh enak jamanku’ dengan gambar Presiden Soeharto
menunjukkan bahwa masyarakat belum paham mengenai kondisi perekonomian
nasional. Yang diketahui masyarakat adalah pada jaman orde baru, harga
kebutuhan pokok murah dan terjangkau. Dan berbeda dengan kondisi pasca
tergulingnya Soeharto pada tahun 1998 yang terus merangkak naik harga kebutuhan
pokok. Peran media saat ini adalah mencerdaskan pemahaman masyarakat mengenai
perekonomian nasional, termasuk didalamnya mengawal dan mengkritisi kebijakan
di bidang ekonomi-perdagangan.
Selama kurun waktu 3 (tiga) kali pemilu, menjadi manifestasi
kebebasan politik bangsa Indonesia. Namun secara ekonomi, perjuangan untuk
meraih ketahanan ekonomi nasional sedang dimulai. Politik dan hukum telah
menyita focus perhatian bangsa ini, dan perekonomian selain bangsa ini sudah
sangat cinta uang dengan menguatnya konsumerisme telah lama diabaikan. Masalah
kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok hanya disodorkan solusi impor. Solusi
tersebut menunjukkan lemahnya kita sebagai bangsa yang berdikari dan kekurangan
ketajaman dalam mencari alternative solusi dari hasil olah pikir pemimpinnya. Politik
dan hukum tanpa ditopang dengan perekonomian yang kuat akan melahirkan konflik
dari hasil kebebasan yang dijamin oleh demokrasi.