Saturday, August 11, 2012

Mremo, Mencari 'THR' ala Warga Salatiga Non Pegawai/Karyawan

Tidak diketahui secara pasti kapan tradisi mremo ini dilakukan warga Salatiga menjelang hari raya idul fitri. Mremo adalah berdagang atau berjualan dengan membangun lapak-lapak atau tempat dasaran (jualan) barang dagangan, dan dibangun di sepanjang jalan utama Salatiga yaitu jalan Jend.Sudirman. Pelaku mremo dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu 'profesi' dan daerah asal-nya. Profesi pelaku mremo adalah mereka yang memang merupakan pedagang atau warga biasa yang mencoba mendapatkan rejeki tambahan di bulan ramadhan. Daerah asal pelaku mremo juga terdiri dari dua yaitu mereka yang berasal dari daerah dibelakang jalan jend. Sudirman seperti Pancuran, Pungkursari, Kalioso, Kalicacing, atau yang domisilinya berada dekat dari daerah. Selain dari daerah sekitar jalan jend. Sudirman, pelaku mremo berasal dari luar kota Salatiga.

Lokasi kegiatan mremo utamanya dilakukan di jalan Jend. Sudirman dari depan pertokoan sebelah pos polisi kota sampai dengan depan pasar raya atau toko emas Gajah. Posisi lokasi mremo sangat tergantung dari kebijakan pemkot Salatiga yaitu mengijinkan warga membangun lapak di tengah jalan jend. Sudirman atau di bahu jalannya. Namun beberapa tahun ini mremo di tempatkan di bahu jalan, sehingga kendaraan bermotor tetap dapat melewati jalan jend. Sudirman. Kondisi demikian yang berkontribusi pada kemacetan di jalan tersebut. Permakluman atas kemacetan tersebut menjadi bagian perayaan hari kemenangan dengan memberikan kesempatan bagi warga Salatiga untuk melakukan mremo. Tahun 2012 ini, lokasi mremo sepertinya ini terbatas di depan pertokoan sebelah pos polisi kota sampai dengan ke depan pasar raya II.

Aneka barang dagangan atau produk dijajakan di arena mremo. Karena sebenarnya mremo dapat dikategorikan sebagai ekstensifikasi pasar (raya I dan II) Salatiga, baik untuk dagangan seperti pakaian dan makanan maupun barang dagangan yang kemunculannya hanya ada disetiap lebaran seperti makanan khas lebaran. Mremo menjadi pasar khas lebaran yang difasilitasi pemkot Salatiga. Selain menampung kebutuhan atas barang menjelang lebaran, mremo menjadi wahana bagi penjualnya untuk mendapatkan tambahan penghasilan untuk menambal kebutuhan lebaran keluarga. 

Sebagai pasar, mremo lebih dari sekedar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Melainkan keinginan untuk membelanjakan uang tambahan dalam berlebaran bertemu dengan kebutuhan warga Salatiga non pegawai/karyawan mendapatkan tambahan penghasilan. Tukar menukar kebutuhan menjelang lebaran terjadi karena peningkatan kebutuhan baik yang bersifat ekstra maupun naiknya harga barang. Kenaikan harga barang di setiap lebaran menjadi tantangan yang harus di hadapi oleh rakyat Indonesia, tak terkecuali warga Salatiga. Mremo adalah solusi dari tantangan ini untuk kota Salatiga. 

Sebagai pasar, mremo ini dapat berpotensi menjadi wisata dan tempat reuni warga kota. Apabia dikelola demgan baik, mremo dapat menjadi daya tarik wisata insidental pada saat lebaran. Mengemas mremo menjadi tujuan wisata adalah tantangan bagi pelaku mremo maupun pemkot Salatiga. Kemasan mremo bertujuan tidak hanya menarik minat konsumen, namun juga memberikan kenyamanan konsumen ketika berbelanja di lokasi mremo. Kenyamanan berbelanja berkaitan dengan keamanan dan ketesediaan aneka produk di pasar mremo. Salah satu yang perlu dikembangkan adalah media informasi yang disampaikan oleh pemerintah atau pedagang mremo.

Media informasi ini sebagai pelayanan kepada konsumen dalam menuntun pencarian barang yang dibutuhkan. Sebagai tempat bertemunya pembeli dana penjual, maka kesempatan terbuka bagi bertemunya individu-individu yang jarang atau tidak pernah bertemu. Khususnya bagi mereka yang menjadi mudikers pada setiap hari raya, momentum ketemu teman sekolah yang tidak diketahui informasinya karena tidak 'eksis' di jejaring sosial akan menjadi peristiwa yang membahagiakan. Mremo dapat dimaknai sebagai sumber kesemrawutan di jalan utama Salatiga, namun memiliki multifungsi ditengah keberadaannya. Selama ini mremo hanya dilihat sebagai ritual ekonomi pada saat bulan Ramadhan. 

Dan sebagai kebiasaan tahunan, silahkan mengunjunginya dan menikmati berdesak-desakan, bermandi keringat, kepanasan ketika mencari barang-barang kebutuhan lebaran.

8 comments:

  1. nice blog thx . Sebagai tempat bertemunya pembeli dana penjual, maka kesempatan terbuka bagi bertemunya individu-individu yang jarang atau tidak pernah bertemu. apa Khususnya bagi mereka yang menjadi mudikers pada setiap hari raya, momentum ketemu teman tidak sekolah yang tidak diketahui informasinya karena tidak 'eksis' di jejaring sosial akan menjadi peristiwa yang membahagiakan.

    ReplyDelete
  2. kalau di daerah saya, disebut mrema, sama halnya yang digambarkan dalam postingan ini. Berburu thr, kemudian belanja sebanyak-banyaknya, juga mencari uang sebanyak-banyaknya,,, lebaran di daerah sendiri memang indah

    ReplyDelete
  3. I can see that you are putting a lots of efforts into your blog. Keep posting the good work.Some really helpful information in there. Bookmarked. Nice to see your site. Thanks! Budidaya Kenari

    ReplyDelete
  4. tiap daerah punya tradisi unik yang bermanfaat... yg penting menghasilkan dan halal

    paket umroh ramadhan

    ReplyDelete