Thursday, March 14, 2013

Paus Fransiskus & Korupsi Kita

Paus Fransikus adalah nama yang dipilih oleh Kardinal Jorge Mario Bergoglio sebagai Paus menggantikan Paus sebelumnya yang mengundurkan diri. Pilihan nama dan latar belakang kehidupan ketika menjalani kehidupan sebagai pastor menjadi sorotan media. Nama Fransiskus dipilih selain untuk menghormati pendiri serikat Jesuit, Paus baru tersebut seolah sedang mengirimkan pesan kepada dunia untuk hidup bersahaja.

Nama inilah yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan yang dijalani selama menjadi pastor di Argentina. Kehidupan yang sederhana dan pembelaannya dalam setiap kotbahnya terhadap kaum miskin dan marjinal sering ditujukan kepada pemerintah. Kotbah yang bersolider terhadap kaum marjinal menjadi pembelaan atas mereka yang dalam proses pengambilan kebijakan teralienasi pemegang kekuasaan. Alienasi inilah yang mencerminkan, pertama, ketidakterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan tidak hanya meminggirkan tetapi juga ketidaktepatan dalam mengangregasi kepentingan atau kebutuhan masyarakat.

Kedua, watak kekuasaan yang tidak mampu dan/ tidak mau mendengarkan aspirasi masyarakat dan lebih nemilih untuk memuaskan kepentingan atau kebutuhan dirinya. Watak kekuasaan inilah yang membujuk pemiliknya untuk melakukan pilihan kebijakan yang meenguntungkan dirinya daripada mengutamakan kepentingan masyarakat. Kebijakan yang menguntungkan dirinya membentuk perilaku korup yang tidak terbatas pada kriteria pidana, namun juga lebih luas lagi dalam kategori moralitas dan etika yang merupakan meta yuridis.

Pengambilan kebijakan yang bukan public-centered based mengambil pilihan untuk mengalirkan keuntungan yang berwujud kebendaan atau bisa dikonversi dengan uang. Pilihan ini dilatarbelakangi tidak hanya dalam rangka mempertahankan kekuasaan semata. Dorongan penguasaan harta kebendaan atau kepemikikan memanfatkan kekuasaan yang dipegang untuk mengais kelimpahan materi. Perolehan harta kekayaan dengan memanfaatkan kekuasaan menjerumuskan pemegangnya pada kejahatan yang dilakukan karena alasan ketamakan (crime by greed).

Korupsi dilakukan oleh pemegang kekuasaan bukan hanya karena kesempatan. Pemegang kekuasaan tergoda untuk menyalahgunakan kekuasaan agar memuasakan kedahagaan atas kelimpahan materi. Pejabat Indonesia yang sedang terjerat kasus korupsi tanpa sengaja digambarkan dengan simbol-simbol kebendaan yang hanya bisa diperoleh dengan nilai nominal yang berlimpah. Ketaksengajaan ini sebagai keniscayaan dari proses pembuktian perilaku korup. Deretan kekayaan dapat mengantarkan penilaian ada tidaknya penyalahgunaan kekuasaan yang terkonversi menjadi aneka harta kebendaan.

Melacak korupsi berarti juga melacak (asal usul) harta kekayaan. Mengungkap korupsi berarti menelusuri sejarah peningkatan harta kekayaan secara kronologis. Dalam hal ini tidak sibutuhkan logika hukum, melainkan akal sehat untuk menilai kemasukakalan peningkatan harta kekayaan dalam kurun waktu. Masyarakat kita yang sudah konsumtif cenderung mengabaikan akal sehat dan membudakkan akal sehatnya pada capaian kekayaan seseorang. Keterpukauan atas pencapaian kekayaan tidak hanya menyilaukan, namun tanpa sadar mendudukan si pemilik harta kekayaan pada strata sosial tertentu. Sikap permisif atas asal usul harta kekayaan, tidak hanya menjadi pengabaian daya nalar, namun juga mendegradasi sensitivitas atas kemiskinan dan marjinalisasi.

Memudarnya sensitivitas atau kepekaan terhadap realitas kemiskinan dan penindasan strukrural masyarakat akan mendorong kelahiran kebijakan yang tidak memihak dari rahim penyalahgunaan kekuasaan. Marginalisasi masyarakat terjadi karena pemegang kekuasaan lebih dahulu mengalami peminggiran dari realitas sosial. Peminggiran tersebut terjadi karena pemegang kekuasaan sudah tersekat kenyamanan yang berasal dari kepungan harta kekayaan. Dalam hal demikian solidaritas terhadap masyarakat miskin dan marjinal tidak bisa terbentuk atas dasar citra dari hasil blusukan atau turba (turba). Penolakan penggunaan harta kekayaan yang berpotensi mendegradasi solidaritas harus terlebih dulu dilakukan.

Penolakan tidak berarti anti, melainkan tidak tergantung atau memujanya sehingga menjadi sebuah obsesi kehidupan. Sebagaimana ditunjukkan oleh Kardinal Jorge Mario Bergoglio sebelum terpilih menjadi Paus hendaknya bisa menginspirasi kita dalam meraih dan atau menggunakan kekayaan dan kekuasaan. Kerendahan hati menjadi kunci dalam menjalani kehidupan yang bersahaja. Pamer atau unjuk gigi kekuasaan bukan bagian dari kesederhanaan, karena mudah terjebak pada tinggi hati dan keinginan untuk dipuja dari kekuasaan yang sedang dipegang atau kebendaan yang dimiliki. Korupsi hanya manifestasi, kemiskinan merupakan dampak, pilihan keberpihakan akan menentukan kebijakan yang diambil oleh pemegang kekuasaan.

17 comments:

  1. Kebersahajaan semestinya adalah kesejatian setiap insan. Bukankah kita dilahirkan dan mati tanpa membawa apa pun? Mungkin ketakutan bathiniah lah yang membuat manusia, selama berziarah dalam kehidupan, yang menciptakan keserakahan-kecemburuan-ketamakan yang pada akhirnya mencederai kesejatian "kebersahajaan" itu. Kita sendiri sebenarnya adalah masalah. Melalui kesadaran dan pikiran yang padam terhadap ego dan hasrat akan ditemukan lagi "kesejatian" manusia yang hakiki, dan menjadi bersahaja kembali sebagai manusia apa adanya.

    Terimakasih atas percik permenungan mas Yakub. semoga ini menjadi "ora et labora" kita bersama demi kehidupan manusia... Amin

    ReplyDelete
  2. . Kerendahan hati menjadi kunci dalam menjalani kehidupan yang bersahaja. LIKE THIS :)

    ReplyDelete
  3. I can see that you are putting a lots of efforts into your blog. Keep posting the good work.Some really helpful information in there. Bookmarked. Nice to see your site. Thanks! Budidaya Kenari

    ReplyDelete
  4. Nice blog article. thanks for good information

    Vimax asli
    Vimax pills

    ReplyDelete