Sudah beberapa kali malam minggu ini, di lapangan pancasila hadir kemeriahan baru. Raungan bunyi sirene menyemarakkan suasana, tiada kenal lelah berhenti untuk memberitahukan kepada warga Salatiga atas kehadiranya. Wahana baru yang melayani kebutuhan warga yang haus hiburan, karena minimnya wahana entertaiment untuk memuaskan kebutuhan rekreatif. Pusat perbelanjaan yang hanya berjenis supermarket atau mall KW 1 tidak cukup mampu memenuhi keinginan warganya atas rekreasi atau hiburan.
Wahana baru tersebut adalah kereta api bermesin mobil setia menjalankan perannya, membantu pemiliknya mendapatkan rejeki dari warga kota. Kereta api tersebut melengkapi wahanahiburan di lapangan pancasila selain wisata kuliner yang mendominasi, ATV dan sepeda roda tiga berhias lampu. Becak mini yang semula hadir, sudah beberapa lama menghilang dari hiruk pikuk geliat ekonomi kaki lima. Selain ada penjual mainan, lapangan pancasila dipenuhi oleh penikmat kuliner.
Lalu lalang motor di area pedestrian berkompetisi dengan konsumen ATV dan pejalan kaki. Lapangan pancasila menjadi ajang nongkrong anak muda, hanya untuk membunuh malam atau bertemu dengan kawan dan sahabat. Riuh rendah percakapan nongkrongers, ditingkahi alunan musisi jalanan alias pengamen yang sering nyanyian yang menghibur diciderai oleh 'bau naga' dan pemaksaan bagi pengguna lapangan (kecuali para pedagang).
Hanya seorang yang menjelajahi belantara intelektualitas, dan terjebak pada ekstase untuk selalu mendalami pengetahuan dan mencari jawab atas pergumulan pemikiran.
Saturday, September 15, 2012
Ironi ditengah Garis Perjalanan Hidup
Said Qhadafi, anak mantan pemimpin Lybia Muammar Qhadafi menunggu eksekusi hukuman mati atas kejahatan yang pernah dilakukan pada masa ayahnya menjadi diktaktor Lybia. Atau mantan Kepala Intelejen Lybia, Abdulah al-Senussi yang ditahan dan diusir keluar oleh Otoritas Mauritania. Dalam konteks dalam negeri, mantan pemimpin daerah (eksekutif maupun legislatif), atau pejabat lembaga negara yang harus menjalani perjalanan hidupnya dengan menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan.
Kesenjangan kehidupan pada saat berkuasa atau sebagai pemimpin dengan setelah tidak berkuasa membentuk suatu ironi. Ironi yang menjadi tragedi ketika pada saat berkuasa menjalankan amanah kekuasaan dengan lebih melayani kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Secara pongah menampilkan kesombongan dan keangkuhan dalam mengelola posisi dirinya. Pengelolaan posisinya tidak mempertimbangkan keberadaan liyan, mengabaikan penderitaan atau kesengsaraan dalam setiap pilihan kebijakan. Liyan tidak diperhitungkan sebagai sesama, hanya dilihat sebagai angka yang mudah dihitung secara matematis dengan mengabaikan kemampuan merasa atas setiap kondisi yang menimpa.
Liyan hanya menjadi anak tangga untuk kejayaan pribadi dan kelompoknya. Anak tangga yang diinjak, ditempatkan ditelapak kaki sebagai bentuk penaklukan dan ketertundukan atas capaian prestasi yang sedang menggelinding menuju puncak tangga kejayaan. Kita sering terjebak dengan kepongahan dan kesombongan dengan segala sumber daya personal atau institusional yang sedang dipegang-kendalikan. Lupa diri dengan kesadaran meng-aku-kan semua capaian dan menindas liyan sebagai pihak yang harus direndahkan. Memandang rendah sesama menjadi keniscayaan, sebagai buah dari pohon kesombongan atau kepongahan. Menghina atau menistakan sesama yang tidak seposisi atau tidak sederajat, karena diri kita merasa memiliki segalanya yang tidak bisa tergoyahkan oleh siapapun.
Ironi ditengah perjalanan hidup terjadi ketika semua materi kesombongan dan kepongahan dilucuti dari busana ke-aku-an. Situasi yang dilupakan ketika bergelimang kekayaaan dan memuncak kedudukan tiba-tiba hadir memeluk hangat dalam perjalanan keseharian. Kesombongan dan kepongahan yang pernah dibanggakan pada waktu itu menjadi sampah kehidupan yang tidak mampu menolong, bahkan hanya untuk sekedar mengulurkan tangan membantu meringankan beban diatas pundak kehidupan. Saat itu, dunia sepertinya sedang mengeroyok dan hendak memaksa kehidupan kita. Namun, garis nasib terus bergulir dalam jalan kehidupan menjadi tuaian sikap kesombongan dan kepongahan kita. Dalam situasi demikian, kemurnian sedang berproses. Memurnikan siapa diri kita, siapa sahabat kita, siapa yang berada disamping kita ketika dunia melarikan diri, menyembunyikan dirinya dari penderitaan yang sedang menimpa.
Manusia mudah terjebak menjadi sombong. Menempatkan dirinya lebih tinggi dan berharga dibandingkan dengan sesama atau memandang rendah liyan yang kita pandang tidak mampu meraih prestasi yang sedang digenggam. Bahkan sombong-pun menjadi epidemik, yang menular dari manusia satu ke manusia yang lain. Dominasi semangat mengedepankan citra, membentuk perlombaan untuk menampilkan diri lebih baik daripada yang lain. Citra menjadi utama, substansi hanya bagian tidak penting untuk dipertimbangkan. Kesombongan menjadi alat untuk menggelembungkan citra. Citra adalah tampilan yang ingin pihak lain lihat dan memberikan apresiasi atas apa yang telah dilihat. Citra yang berkelindang dengan kesombongan tak lebih seperti peribahasa 'tong kosong nyaring bunyinya'. Menampilkan suara yang menggelegar, mengalahkan bunyi sayup. Suara yang menggegar terbentuk dari ruang kosong dari media yang besar.
Ilmu padi menjadi tidak populer ditengah melimpahnya virup sombong. Rendah hati hanya akan dipandang sebagai bentuk kelemahan. Langkanya pengikut ilmu padi yang bersumber pada kerendahan hati menjadikan kesombongan menjadi hiruk pikuk bagi mereka yang sedang dipeluk oleh kekuasaan dan dicumbui dengan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika pelukan dan cumbuan itu memudar dan meniada maka yang tersisa adalah ironi garis perjalanan hidup dari seseorang yang pernah sombong dan angkuh. Kesombongan dan keangkuhan tidak hanya bagi mereka yang memiliki kekuasaan pada jabatan-jabatan pemerintahan atau perusahaan-perusahaan, melainkan bagi kita yang sudah ingin dianggap tinggi dan memandang rendah sesama. Merasa diri kita lebih dari orang lain, dan orang lain tidak sama seperti aku yang sedang dipeluk kekuasaan dan bermesraan dengan kekayaan. Kita akan terhempas oleh ironi garis perjalanan hidup ketika kesombongan kita terkoyak oleh situasi yang mendorong kita lengser dari kepongahan.
Ironi perjalanan hidup, belum disadari ketika masih bergelimang harta dan duduk di kursi empuk kekuasaan. Ketika kita mengalami, kita sadar bahwa harta dan kekuasaan tidak mampu melepaskan diri dari terkaman garis nasib yang menghendaki kita dianiaya, menderita dan dihinakan.
Kesenjangan kehidupan pada saat berkuasa atau sebagai pemimpin dengan setelah tidak berkuasa membentuk suatu ironi. Ironi yang menjadi tragedi ketika pada saat berkuasa menjalankan amanah kekuasaan dengan lebih melayani kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Secara pongah menampilkan kesombongan dan keangkuhan dalam mengelola posisi dirinya. Pengelolaan posisinya tidak mempertimbangkan keberadaan liyan, mengabaikan penderitaan atau kesengsaraan dalam setiap pilihan kebijakan. Liyan tidak diperhitungkan sebagai sesama, hanya dilihat sebagai angka yang mudah dihitung secara matematis dengan mengabaikan kemampuan merasa atas setiap kondisi yang menimpa.
Liyan hanya menjadi anak tangga untuk kejayaan pribadi dan kelompoknya. Anak tangga yang diinjak, ditempatkan ditelapak kaki sebagai bentuk penaklukan dan ketertundukan atas capaian prestasi yang sedang menggelinding menuju puncak tangga kejayaan. Kita sering terjebak dengan kepongahan dan kesombongan dengan segala sumber daya personal atau institusional yang sedang dipegang-kendalikan. Lupa diri dengan kesadaran meng-aku-kan semua capaian dan menindas liyan sebagai pihak yang harus direndahkan. Memandang rendah sesama menjadi keniscayaan, sebagai buah dari pohon kesombongan atau kepongahan. Menghina atau menistakan sesama yang tidak seposisi atau tidak sederajat, karena diri kita merasa memiliki segalanya yang tidak bisa tergoyahkan oleh siapapun.
Ironi ditengah perjalanan hidup terjadi ketika semua materi kesombongan dan kepongahan dilucuti dari busana ke-aku-an. Situasi yang dilupakan ketika bergelimang kekayaaan dan memuncak kedudukan tiba-tiba hadir memeluk hangat dalam perjalanan keseharian. Kesombongan dan kepongahan yang pernah dibanggakan pada waktu itu menjadi sampah kehidupan yang tidak mampu menolong, bahkan hanya untuk sekedar mengulurkan tangan membantu meringankan beban diatas pundak kehidupan. Saat itu, dunia sepertinya sedang mengeroyok dan hendak memaksa kehidupan kita. Namun, garis nasib terus bergulir dalam jalan kehidupan menjadi tuaian sikap kesombongan dan kepongahan kita. Dalam situasi demikian, kemurnian sedang berproses. Memurnikan siapa diri kita, siapa sahabat kita, siapa yang berada disamping kita ketika dunia melarikan diri, menyembunyikan dirinya dari penderitaan yang sedang menimpa.
Manusia mudah terjebak menjadi sombong. Menempatkan dirinya lebih tinggi dan berharga dibandingkan dengan sesama atau memandang rendah liyan yang kita pandang tidak mampu meraih prestasi yang sedang digenggam. Bahkan sombong-pun menjadi epidemik, yang menular dari manusia satu ke manusia yang lain. Dominasi semangat mengedepankan citra, membentuk perlombaan untuk menampilkan diri lebih baik daripada yang lain. Citra menjadi utama, substansi hanya bagian tidak penting untuk dipertimbangkan. Kesombongan menjadi alat untuk menggelembungkan citra. Citra adalah tampilan yang ingin pihak lain lihat dan memberikan apresiasi atas apa yang telah dilihat. Citra yang berkelindang dengan kesombongan tak lebih seperti peribahasa 'tong kosong nyaring bunyinya'. Menampilkan suara yang menggelegar, mengalahkan bunyi sayup. Suara yang menggegar terbentuk dari ruang kosong dari media yang besar.
Ilmu padi menjadi tidak populer ditengah melimpahnya virup sombong. Rendah hati hanya akan dipandang sebagai bentuk kelemahan. Langkanya pengikut ilmu padi yang bersumber pada kerendahan hati menjadikan kesombongan menjadi hiruk pikuk bagi mereka yang sedang dipeluk oleh kekuasaan dan dicumbui dengan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika pelukan dan cumbuan itu memudar dan meniada maka yang tersisa adalah ironi garis perjalanan hidup dari seseorang yang pernah sombong dan angkuh. Kesombongan dan keangkuhan tidak hanya bagi mereka yang memiliki kekuasaan pada jabatan-jabatan pemerintahan atau perusahaan-perusahaan, melainkan bagi kita yang sudah ingin dianggap tinggi dan memandang rendah sesama. Merasa diri kita lebih dari orang lain, dan orang lain tidak sama seperti aku yang sedang dipeluk kekuasaan dan bermesraan dengan kekayaan. Kita akan terhempas oleh ironi garis perjalanan hidup ketika kesombongan kita terkoyak oleh situasi yang mendorong kita lengser dari kepongahan.
Ironi perjalanan hidup, belum disadari ketika masih bergelimang harta dan duduk di kursi empuk kekuasaan. Ketika kita mengalami, kita sadar bahwa harta dan kekuasaan tidak mampu melepaskan diri dari terkaman garis nasib yang menghendaki kita dianiaya, menderita dan dihinakan.
Monday, September 10, 2012
“Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”: Telaah Atas Kesehatan Mental dalam Tindakan Kekerasan Masyarakat yang dikonstruksi oleh Hukum
Peribahasa ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ mempunyai arti keteladanan memiliki arti penting dalam proses pembelajaran. Meniru adalah aspek paling sederhana dari proses belajar. Tindakan meniru sebuah perilaku yang negative misalnya kekerasan dapat berasal dari proses pembelajaran dari lingkungan sekitar. Kekerasan yang tidak memiliki konsekuensi, khususnya akibat yuridis (impunitas) merasuk dalam aras kognisi public dan melahirkan penilaian ketidakadilan. Penilaian ketidakadilan adalah penilaian yang berasal dari hasil pembelajaran dengan berbagai media dan informasi yang terkumpul. Proses pembelajaran dapat melahirkan pemahaman untuk melakukan balas dendam dalam bentuk kekerasan. Dimana subyek melihat bahwa kekerasan yang dilakukan liyan dinilai tidak berakibat hukum, sehingga melahirkan dorongan untuk melakukan hal yang sama. Kekerasan sebagai hasil dari proses pembelajaran terbentuk karena penilaian adanya pembiaran yang dilakukan hukum. Hukum dipandang tak berdaya dan ketidakberdayaan tersebut dilihat sebagai legitimasi untuk melakukan kekerasan. Meski terdapat faktor lain penyebab kekerasan, namun tulisan ini fokus pada proses pembelajaran dari hukum yang lemah atau tidak berdaya untuk memberikan sanksi (baca: hukuman) yang menjerakan. Kekerasan (agresi) dikategorikan sebagai gangguan kesehatan mental, dalam hal ini menempatkan hukum sebagai faktor yang membentuk tindakan kekerasan individu atau kelompok individu. Berbagai media yang menyampaikan informasi menjadi sarana pembelajaran yang membentuk tindakan kekerasan. Informasi yang diperoleh mencakup kegagalan hukum memberikan sanksi terhadap pelaku, termasuk hukuman yang setimpal menurut penilaian subyektif individu. Menumpuknya informasi tentang kegagalan hukum memberikan perlindungan kepada masyarakat terekam dengan baik pada aras kognisi individu. Rekaman ini menjadi stimulan kekerasan bagi individu atau kelompok individu yang menjadi referensi ketika mempertimbangkan melakukan atau tidak melakukan tindakan kekerasan. Dalam situasi demikian hukum menjadi salah satu pendorong terbentuknya tindakan kekerasan oleh individu maupun masyarakat baik sebagai respon atas situasi tertentu maupun sebagai jalan pintas penyelesaian masalah.
Kata kunci: Hukum, proses belajar, kekerasan, kesehatan mental
Kata kunci: Hukum, proses belajar, kekerasan, kesehatan mental
Abstrak dari paper yang sudah dipresentasikan di Temu Ilmu Nasional Fakultas Psikologi Universitas Krida Wacana, Jakarta pada hari Senin, 10 September 2012.
Subscribe to:
Posts (Atom)