Thursday, October 11, 2012

"Ga Harus Bilang WOW Kepada Koruptor"

Judul diatas adalah 'tema' aksi unjuk rasa Cicak Salatiga dan PSAK UKSW untuk mendukung KPK dan pemberantasan korupsi. Judul yang terkesan gaul dan beraroma anak muda, muncul dari 2 kali diskusi yang diselenggarakan di FH UKSW. Diskusi yang mengundang berbagai elemen mahasiswa di Salatiga, masyarakat dan mahasiswa UKSW mendapat respon dengan kehadiran masyarakat dan mahasiswa. Ada dari Karang Taruna, Salatiga Peduli, GMKI, mahasiswa FE, FH dan FISKOM UKSW mewarnai seri diskusi yang dilakukan sebagai bentuk  konsolidasi gerakan sebelum melakukan aksi turun ke jalan.

Bahwa sepertinya sudah menjadi tradisi gerakan di lingkungan UKSW, ketika hendak melakukan unjuk rasa atau demonstrasi selalu dilakukan diskusi tentang tema yang akan disampaikan pada unjuk rasa atau demonstrasi. Diskusi adalah bagian untuk berbagi informasi, berdialog dengan aneka perspektif, dengan harapan akan memperkaya perspektif berpikir kritis mengenai situasi yang hendak disikapi. Diskusi menjadi ruang untuk saling bertukar pikiran ditengah minimnya terjadinya diskusi khususnya di lingkungan UKSW untuk menyikapi persoalan masyarakat, bangsa dan negara.

Diskusi yang dilakukan dalam rangka menyikapi KPK vs POLRI mengalir pada pemahaman bahwa yang ingin diperjuangkan adalah pemberantasan korupsi. Bukan pada sekedar pertikaian KPK dan POLRI, namun bertolak dari gagasan bahwa korupsi lahir ditengah lemahnya penegakan hukum dan rendahnya kontrol dari masyarakat. KPK hadir sebagai anti tesis dari keberadaan aparat penegak hukum yang korup. Sehingga KPK perlu diperkuat keberadaannya dengan tetap terus melakukan kontrol terhadap KPK dan upaya pemberantasan korupsi.

Ide mengenai tema unjuk rasa "Ga Harus Bilang Wow Kepada Koruptor" merupakan hasil respon diskusi yang menghendaki bahwa kemasan aksi tidak harus serius. Pesan harus disampaikan secara ringan dan sesuai dengan konteks jamannya. Dengan pesan yang ringan dan dikemas dalam bahasa kekinian, diharapkan pemberdayaan masyarakat khususnya generasi muda lebih tepat sasaran. Dimana salah satu hasil diskusi muncul tuturan dari pengalaman aksi unjuk rasa sebelumnya bahwa selebaran yang dibagi menarik minat masyarakat untuk memperoleh informasi dari kasus atau peristiwa yang disikapi dengan demonstrasi.

Unjuk rasa yang dilakukan-pun menggunakan marchingblek UKSW untuk mengemas kritik sosial dengan menggubah lagu Iwak Peyek. Pembacaan puisi dari mahasiswa FISKOM dan dosen FBS semakin menyemarakkan aksi dengan pesan-pesan anti korupsi yang dikemas dengan berkesenian. Meski tidak banyak, meskipun harapan yang hadir akan melebihi dari aksi-aksi yang pernah dilakukan karena konon kabar ada dua kelas di sebuah fakultas meliburkan kuliahnya dan meminta mahasiswa peserta kuliah untuk ikut aksi unjuk rasa, sepertinya tidak terbukti. P
eserta aksi menggunakan jas almamater UKSW, karena yang mengikuti aksi hanya mahasiswa UKSW, tetapi mereka tidak mengatasnamakan diri dari Lembaga Kemahasiswaan UKSW Senat Mahasiswa Universitas & Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas). Peserta aksi hadir sebagai individu mahasiswa yang peduli terhadap pemberantasan korupsi. 


Ringannya kemasan bahasa tidak mengurangi kedalaman makna dimana masyarakat mudah lupa terhadap koruptor. Masyarakat mudah terpukau dengan mantan terpidana korupsi yang sudah menjalankan hukuman. Keterpukauan mewujud dalam apresiasi atau penghormatan kepada mereka dengan menempatkan mereka (masih) diposisi terhormat. Hasilnya, ketika mereka mencalonkan diri sebagai legislatif atau kepala daerah masih dipilih oleh rakyat. Social punishment tidak sejalan dengan legal punishment. Masyarakat masih sering WOW dengan koruptor, bahkan berandai-andai kalau yang korupsi adalah dirinya. 

Sikap WOW masyarakat yang demikian inilah yang menyulitkan pemberantasan korupsi. Termasuk kehadiran KPK tidak memberi dampak jera bagi penyelenggara negara untuk menahan diri dan mengharamkan kekayaan hasil korupsi. Korupsi hadir tidak hanya ada kesempatan, melainkan 'apresiasi' dari publik ketika seseorang menunjukkan 'prestasi' pencapaian kekayaan. Apresiasi inilah yang menyuburkan pilihan untuk korupsi dari penyelenggaran negara. Kehidupan bersahaja menjadi bentuk kegagalan, yang lebih b anyak dicibir masyarakat. Karena bagi masyarakat, kelimpahan materi menjadi ukuran sukses dan berhasilnya seseorang.

Pidato SBY tidak harus melenakan publik, namun terus memasang kewaspadaan terhadap tindakan konyol meruntuhkan bangsa ini dengan memilih untuk korupsi. Pilihan yang diupayakan dengan jalur politik ditempuh agar penyelenggara negara memiliki ruang cukup untuk merampok yang rakyat. Terus bergerak untuk Indonesia bersih dengan "ga harus bilang WOW kepada koruptor.

16 comments:

  1. wah ane juga ada post tentang korupsi nih gan

    ReplyDelete
  2. korupsi emang dah mendarah daging, sangat sulit dihilangkan tetapi bukan hal yang harus dibiarkan saja

    ReplyDelete
  3. korupsi merajarela, rakyat merana..
    kalau hukuman di negara kita masih ringan, korupsi tidak akan pernah berkurang.
    korupsi sama narkoba sama saja, sama-sama bikin ketagihan..
    Eflianda BlogzZz

    ReplyDelete
  4. saya setuju sekali... sudah menjadi budaya buruk adanya korupsi di banggsa ini. Para orang pintar sudah hilang akal sehat dan hati nuraninya...lagu galau korea

    ReplyDelete
  5. I can see that you are putting a lots of efforts into your blog. Keep posting the good work.Some really helpful information in there. Bookmarked. Nice to see your site. Thanks! Budidaya Kenari

    ReplyDelete
  6. Terima kasih telah menulis artikel yang informatif.
    kios nugraha
    deviyudis

    ReplyDelete
  7. Koruptor mah harus dihukum mati, skrg mah maling ayam harga 50 rb dibakar hadeeh
    berita ambon

    ReplyDelete